MEMORI BULAN TIGA

 

Minggu kedua Juni, 2017.

Malam ini begitu basah. Hujan yang sedari siang enggan meninggalkan kota masih setia bercumbu dengan tanah. Menggoda iman para pencari nafkah untuk tidak bangun dan melanjutkan mimpi, para ojek payung yang terpaksa lembur, para supir taksi online yang kewalahan menerima order, dan Perempuan ini, yang sedari sore enggan beranjak dari Cafe mini di sudut jalan Umalas itu.

Seperti biasa, anganya mengembara, dengan rokok mild di tangan, laptop menyala, dan sebotol Bali Hai di sampingnya.

rainy cafe

source : chinooart.files.wordpress.com

Hujan telah lebih dari sukses menghipnotis pikiranya, membawanya jauh dan semakin jauh dari tubuh. Menempatkanya ke satu kenangan indah yang sedari ntah enggan meninggalkan pikiran Nila. Memvisualkan semua sentuhan dan suara yang selama ini mengusik sela sela hari Nila. Menggiring tubuh nya untuk semakin dekat ke sisi hangat tubuh alter ego yang selama ini terperangkap di dalam tubuhnya.

——————————————————————————————————–

Minggu pertama, Maret 2017.

Suara Adzan berkumandang lantang memecah keheningan Subuh kota kecil di pinggiran Denpasar. Nila segera bangun, merapihkan tempat tidur, beranjak ke kamar kecil untuk berwudhu dan menunaikan ibadah Sholat Subuh bersama ibunya.

Tak lupa sebelumnya ia memanaskan air hangat untuk ibu nya yang tidak kuat dengan dinginya air pagi. Semenjak kepergian Ayah nya 2 tahun lalu, Nila menjadi lebih mandiri dan bertindak sebagai tulang punggung keluarga. Ayah nya yang seorang penceramah dan tokoh agama terkemuka membuat pola hidup Nila sangat tertata dan terencana.

Ntah tertata. atau terperangkap.

Ayah nya seorang yang sangat konservatif dan Agamis. Sangat ketat mengenai pola pergaulan, makanan, cara berpakaian, pola asuh, tata krama, dan hal hal kecil lainya. Tak heran hingga umur nya ke 22 Nila tak punya banyak teman, selain dengan kolega kantor, Nila sangat jarang berpergian.

Dan ketika keputusan Nila untuk melanjutkan kuliah di Jakarta ia utarakan, Ayah nya dengan amat sangat menolak.

“Untuk apa perempuan kuliah jauh-jauh! Kuliah saja disini, dekat! Cari yang aman saja, diluar itu bahaya. Manusia lain itu berbahaya!”Begitu katanya.

Tapi Nila memang terlahir dengan kepala batu, keras kepala. Dengan dukungan ibunya, ia berhasil berangkat dan kuilah ke Jakarta dan menamatkan kuliah International Business nya dengan amat memuaskan.

Tak hanya kepala batu, ia juga terlahir dengan gairah, imajinasi, dan kebebasan yang tinggi. Di balik sosok konsevatif nya di Rumah, ia merupakan sosok yang liar, aktif, binal, supel, dan super attraktiv di luar. Tapi sayang ia terlalu menutup diri terlalu memendam, terlalu bersembunyi di balik baju panjangnya. Ia bermimpi untuk bisa berkeliling dunia dengan tas besar di punggung, menyusuri kali dan sungai bening kecil dengan celana super pendek, berjemur dengan bikini mini di tepi pantai Cebu Island, menghabiskan malam dengan kesadaran minim sembali berdansa dengan gila di salah satu club di Bali, dan bertemu dengan seorang yang mempunyai kunci untuk semua itu.

Ia menyebutnya Alter ego. Pribadi lain yang ada di satu tubuh seseorang, yang sangat berbeda dengan aslinya.

——————————————————————————————————–

Pagi itu Nila mulai bekerja ketika matahari masih enggan menunjukkan rupanya, posisinya sebagai Revenue Manager di suatu hotel Bintang Lima di Bali menuntut ia untuk mencapai target. Dan ketika orang-orang tidak bekerja pada H-1 Nyepi, alih alih Libur, Nila sudah siap di balik setir dengan blouse putih berkerah V dengan rok peach mini nya tepat ketika Puja Tri Sandya berkumandang.

“Nila berangkat ya Ma, Assalamuaikum” ujarnya samba mencium tangan Ibu nya.

Waalaikumsalam. Hati Hati Nduk, Ini masih gelap loh, Hujan nya dari kemarin gak berkenti berhenti, jalanya pasti Licin.”

Nila mengangguk dan tersenyum, kemudian berlalu dengan Jazz Putih miliknya, membelah derasnya hujan pagi itu, menuju ke suatu resort di Nusa Dua untuk memenuhi janji dengan salah satu client penting.

Hari ini pasti akan berjalan tidak biasanya, tidak biasa dalam artian akan ada sesuatu baru hari ini, deal baru dengan client baru. Batinya.

Ah, hello another gloomy day!

——————————————————————————————————–

Meeting usai lebih awal, Seperti sugestinya, meeting hari ini berjalan lancar, deal sudah di depan mata, pundi pundi komisi nya pun akan bertambah, dan semakin dekatlah dia dengan wish list dia tahun ini, solo travelling ke Filipina.

Usai meeting ia tak lantas ke rumah, ia pergi ke salah satu cafe kecil di kawasan Seminyak. Sehari sebelum Nyepi memang susah untuk bermobilitas, ogoh-ogoh sudah memenuhi jalan besar dan kecil. Penduduk pun mulai sibuk mempersiapkan bekal Nyepi. Pasar, toko kelontong, dan supermarket penuh sesak oleh orang yang panik. Panik akan kelaparan, panik bekal cemilan habis, panik akan terkurung nya diri mereka selama sehari.

Namun tidak seperti penduduk yang lain, Nila siang itu asik duduk di suatu cafe semi perpustakaan di daerah Oberoi. Memanjakan alter ego nya yang sedari seminggu memaksa untuk keluar. Tanganya sudah gatal untuk menumpahkan unek-unek dan rasa terpendamnya ke sebuah tulisan.

‘’Hello, little geeky girl. How are you today?” Sapa Jose, pemilik cafe.

“I’m fine Señor Jose, need a shot, table, and slot to plug on my macky”

“Your cabin awaits you, dear”

Nila balas dengan senyum dan langsung menuju lantai atas. Lantai dua cafe ini sangat istimewa, sepi, luas, jendelanya yang besar memungkinan Nila untuk mengamati perilaku wisatawan di luar, yang sering kali memberikan banyak ide dan inspirasi

Siang itu hanya ada dia, dan.. dan satu laki laki di seberang mejanya.

30 detik setelahnya Nila refleks mengobservasi lelaki tersebut.

Umur nya skitar 25 tahunan. Telinganya tertutup headset, dari sudut matanya ia terlihat sibuk memperhatikan grafik yang ada di laptopnya. Rambut nya hitam sebahu diikat cepol tinggi, jenggotnya yang sedang dan jambangnya terlihat sedikit berantakan menghiasi muka kotaknya, kulitnya coklat sawo matang berbalus t-shirt oblong hijau, sandal jepit merah dan gelang kaki rajut terbalut di kaki nya, alis nya yang tebal membingkai mata nya yang menyorot tajam. Dilihat dari fisiknya ia berasal dari Pakistan, India atau Sri Lanka, dan pekerjaanya adalah, hmmm Yoga teacher, atau Chef.

Dan……

Ia Wangi, sangat wangi.

09A7CBCF-6D01-4B73-9FCB-C450533E03F6

Ah, kebiasaan buruk Nila mulai lagi, mengamati, meNilai, dan menuduh orang sebisanya.

Di tengah tengah proses pendalamnya tiba2 lelaki itu menoleh ke arah Nila.

‘Stupid!’ Nila langsung salah tingkah, dan kembali mengeluarkan laptopnya.

‘Act cool, cool Nila!’ Gumam Nila.

Tak berapa lama kecanggungan tersebut sirna seiring dengan beralihnya konsentrasi mereka berdua dengan laptop masing-masing.

15 menit kemudian, hujan semakin deras. Deras sekali hingga suaranya mengganggu konsentrasi Nila. Tulisanya kali ini memang membutuhkan konsentrasi dan perasaan yang sedikit tinggi. Ia menulis tentang sudut pandang pekerjaan Wanita Tuna Susila dari sisi kepuasan dan kebutuhan wanita akan Seks itu sendiri.

Tak fikir panjang, ia lantas mengeluarkan headset dan menghubungkanya ke Laptop, berharap musik akan lebih membantunya untuk fokus. Dipilihnya lagu The beatles, Here Come The Sun, tak lupa dinaikkan volume suara laptopnya.

Sedetik setelah mengklik tombol Play, Nila baru menyadari kebodohan Nila selanjutnya.

Here the come Sun dududu.. 

Here come the sun, 

And i say. ..It’s alright

Suara melodi dan lagu dengan sangat kencang memenuhi ruangan kafe lantai 2 tersebut.

“Bodoh! Plug headset tidak dimasukkan dengan benar olehnya, alias belum connect!

Si lelaki t-shirt hijau langsung kaget dan menatap Nila. Untuk beberapa saat Nila masih belum bisa membaca tatapanya. Seperti marah tapi tidak marah, hanya menatap tajam.

Tak lama si lelaki berbicara.

“Here come the Sun is fantastic Song, but i won’t play it on a gloomy day like this, unless you’re hopeless, or oppositely ambitious “ ujarnya sambil tersenyum manis.

Manis…. jauh dari yang ia bayangkan.

“I’m in between it. Sorry by the way for shaking you” sambut Nila

“No one shaked, and no sorry needed” jawab lelaki tersebut

“My name is Abhiram, Abhiram Misra” Sambung si lelaki dengan posisi sama, headset nya sudah terlepas dari telinga, dan laptopnya telah bergeser.

“I’m Nila, Nila Saraswati”

“Can we shake hand if you don’t mind?” Sambungnya sambil berpindah posisi tepat di meja Nila.

“Why not” jawab Nila sambil menyambut tanganya.

“I bet you’re Balinese, and you’re doing some of your work?”

“Yes, and no. I’m not fully working now, and yes i’m balinese. You?”

“I am Indian, i am monitoring my work there”

Work, ok.. dia pasti bukan chef dan sedikit kemungkinan sebagai guru yoga.

What you do for living by the way? And you’re on vacation?”

“I am an IT expert in Bangalore, and on relaxing time with my buddies”

Ok, meleset tebakanya.

“Bangalore, silicon valley of India! 

“Bang on! Yes, kind of. I just reached this morning and just known that tomorrow is Nyepi day, so i trapped”

Ah, ashamed. But you prepare for food, drinks and any else?”

“Little food, little drink. I don’t know what to do tomorrow”

“Well you can watch movie, morning yoga, or meditation, evening laying on the garden and watching milky way”

“Hahahaha. Maybe i need your help tomorrow. I heard everything is closed. You have any suggestion for me?”

“if you asked me yesterday, i will suggest you to escape to gili”

“How to go?”

“By Boat”

“I don’t even have bike”

“ We have Uber mister,  But it’s impossible to do now, at this time”

“Shit shit. How stupid i am. I haven’t planned anything. Reached today only, will be here till 2nd”

“Hey you’re more than lucky to feel silence day here.. It’s only one year and….”

Belum sempat Nila menamatkan  kalimatnya, handphone nya berdering, dari Ibu yang menunggu nya untuk makan malam. Segera setelah menutup telfon Nila langsung berkemas pergi.

“Sorry Abhiram, i have to go. My mom is waiting for me”

“Ok, sure. Take your time”

Nila yang bergegas kemudian dicegat oleh Abhiram.

“Any chance we can meet again sometimes tomorrow?”

…………………

Hmm probably” Jawab Nila

“But how? Can i have your number?” tanya Nila.

“Senor Jose is a great man, ask him, if you’re lucky he will give you. Bye Abhiram, Happy silence day!”

“Senor Jose, But.. Ok bye.. I will definitely meet you again, Happy Silence day” jawab Abhiram sambil mengernyitkan dahi

Setelah Nila pergi ia langsung menghampiri Senor Jose yang sedang sibuk menghancurkan biji kopi dibalik bar, beruntung siang itu Senor Jose sedang dalan mood baik dan memberikan nomor Nilla, sebelumnya Nila sempat berpesan untuk tidak ‘dengan susah’ memberikan nomornya untuk lelaku ber t-shirt hijau di atas.

Setelah mendapat nomor telfon dan menghubunginya, mereka semakin dekat. Nila sering memberikan saran, destinasi, dan membantu Abhiram seputar perjalananya.

Jujur Nila tidak mengharapkan dan berekspetasi apa apa. Ia fikir Nila teman yang baik, atau bisa merambah menjadi relasi bisnis. Tidak pernah terbesit bahwa Abhiram lah yang berhasil mewujud nyatakan impian Nila, yang berhasil membobol sisi liar Nila, dan membuat semua angan akan menjadi dewasa terwujud dalam satu malam.

——————————————————————————————————–

Malam itu akhirnya mereka bertemu lagi. Setelah perdebatan panjang tentang bagaimana, apa, dan kapan mereka bertemu.

“So will we meet tonight?” tanya Abhiram

Yes, i think So” Jawab Nila

“Why think So, i thought we’ll meet” Tanya Abhiram heran.

“Who say we won’t? ” Nila menjawab dengan sedikit candaan.

“No one :p Where at?” 

“Somewhere else? Ok, what you expect us to do tonight?” Nila coba membaca apa yang diinginkan Abhiram.

“Talking, Walking, dancing, drinking, eating”

DANCING? PARTYING? Refleks hati Nila berjingkrak mendengar kata tersebut.

“You?” tanya Abhiram.

‘I want to have all of your body tonight’ Sisi Liar Nila menjawab dalam hati.

“Same as you, But.. actually i want to say something” jawab Nila.

When i go to party, and come late, and might be drunk, i never come home. I always stay in my friend place. And he is in Jakarta right now”

“Stay in my place, please. We have a room to share” 

“But you say you came by 5. And you have 2 bedroom villa?”

“ I can kick out my friend, and we can share room”

“3 of us?”

“2 of course!”

hmmmmm..

“Easy, i won’t bit you. i won’t do any harm”

………………

“What happen?”

“Ok, we will share room”

And couple things more.

“No drugs, no violence, no hitting people”

“Deal”.

As the deal made, selepas kerja hari itu Nila pergi ke villa Abhiram.

Malam ini Nila (akhirnya) sedikit bebas dengan diberikanya ia ijin untuk menginap di salah satu rumah teman. Dengan alasan, pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Klasik. Namun toh alasan itu ampuh.

——————————————————————————————————–

Jam menunjukkan pukul 8 malam ketika Nila memarkir Jazz putihnya di depan villa Abhiram. Malam itu Nila datang dengan sederhana. Dengan seragam kantor dress mini hijau tuanya dengan logo perusahaan di dada kirinya, lengkap dengan sandal jepit hijau mudanya. Sekali lagi, dia tidak berekspetasi apa apa. Sekedar duduk ngopi, dan bercerita tentang dirinya yang lain atau tentang hal tabu lain yang tidak bisa ia ceritakan ke orang lain sudah dari cukup.

“Hi again geeky girl, How are you?” Sambut Abhiram dengan canda

“Ah Senor Jose, what did they told you about me? Naughty old man!”

“Couple.. Well actually many things, your favorite books, coffee, your home, and…”

“And?”

“And we have to come in, it’s so cold outside. Come on!”

Abhiram mengambil tas baju Nila, dan perempuan itu mengikuti dari belakang dengan penuh tanda tanya.

“And…?”

——————————————————————————————————–

Sesampainya di dalam Villa mereka langsung bercerita banyak hal. Malam itu mereka hanya berdua, teman teman Abhiram sedang pergi ke suatu beach club dearah Kuta Selatan.

” What do you want to have?” tanya Abhiram

“What do you have?” Jawab Nila sembari duduk di sofa ruang tamu.

“Well…..” Ia membuka kulkas dan mencoba mencari minuman selain Bir.

“I only have Beer” jawab Abhiram dengan senyum lebar.

“Then why do you ask what i want to have if you only have Beer? Give me one!” Sahut Nila dengan nada mengejek

Mereka melanjutkan percakapan dengan santai. Segala hal tentang musik, pekerjaan, keluarga, Bali, Bangalore, travel dan banyak hal lainya habit meteka bicarakan.

I love the Beatles. And that song, here come the sun is my most favorite one. I play it every morning” buka Abhiram

“You think it’s a melancholic song?” tanya Nila

“No, it’s a mood booster song!. You say?” Jawab Abhiram sambil menengguk Bir Bintang.

“Indeed. I hear it when i was down. But to be honest i see it as really sad song. Like me, when someone heard it on the opposite situation, rainy and gloomy day, once again  just like me. Means she’s in a confuse situation. Too much stuff in her mind, overloaded, or she can’t make up her mind about something” Jawab Nila menggebu-gebu.

“Did you feel that that day?” 

“I am, from 5 years back” 

“How come?”

“I came from really religious and tight inner circle,they don’t see me as me, they create me as they want. So i don’t have time of being me, of being young, of being what they say wild and free. I’m trapped, trapped in the world that created by my family, my inner circle. I don’t have chance to find my self, and if i did, i don’t have time to expose it. I’m trapped”

“So what’s the inner you?” potong Abhiram.

“Inner me? I want to do party until morning, getting lost, sober, i want to feel hangover, i want to hangout with stranger, i want to sailing in a small island in Philipines, i want to do food traveling in France, i want to hiking alone in Nepal. i want to be on top of Rinjani mountain fell the air and feel that i am alive. Not like this. I am like dead meat now, Abhiram”

Abhiram melihat sorot mata yang amat sayu dan sedih. Dia melihat perempuan yang sangat manis dan kuat sedang meratap di depanya. Ketika Abhiram melihat Nila mulai murung dan berkaca-kaca. Abhiram tau apa yang harus dilakukan malam ini.

“Hey Nila, you’re not coming here for crying, don’t you? Come on. we will go in 20 minutes . You better get ready now. It will take ages for you to prepare”

“Go?…… Where?” tanya Nila.

“La Favela”

“LA Favela?!” jawab Nila kaget.

Damn! La Favela? Nila sudah bermimpi lama untuk pergi kesana. Club paling ‘hits’ dan cukup terkenal di kawasan Seminyak. Tempat dimana ia bisa berdansa, bisa hilang kendali, wasted, make out, dan melakukan hal liar gila lainya.

“We are going to Lafavela?” tanya Nila kembali.

“Yes, it’s a good club right?” jawab Abhiram

YES! YES IT IS

But you know i can’t get in as i am still under 25?” tanya Nila ragu

“I will make us in. No matter what”

Ah, Tuhan! Nila tidak bisa mengungkapkan letupan letupan dahsyat yang sedang terjadi di gunung aktif jantungnya saat itu.

“If you’re not convenient, we can just…” Sambung Abhiram.

“Let’s go! i will take a shower now” potong Nila

Nila berlari kecil menuju kamar, mengunci pintu, dan bersiap.

Sementara di luar, Abhiram melihat garis ‘kecil’nya itu dengan senyum simpul.

——————————————————————————————————–

30 menit kemudian Nila memanggil Abhiram,

“Abhiram, can you do me a favor?”

“Yes, madam”

“I can’t choose which dress i will wear. Please vote, black or red.”

“Easy favor”

“So this one is black” Nila berdiri dan berputar memakai dress mini hitam, dengan punggung terbuka.

Abhiram melihat gads nya tersebut dengan napas tertahan. Ia baru sadar betapa manis dan indahnya wanita yang akan menemaninya malam ini.

“So this one is Black, I will change into red one” Ia menutup pintu, dan segera berganti baju

“So, this is the red one” buka Nila sehabis mengganti dress nya.

Nila kembali berdiri dan berputar dengan dress merah berbelahan dada rendah. Dadanya yang mulus dan pun menyembul sedikit dari belahan gaunya. Lagi, Abhiram harus menahan nafas melihat Nila. Ia berfikir sejenak, lalu berkata.

“You’re cool with Black”

“OK!”

Tak butuh lama untuk Nila bersolek. 10 menit setelah ia berganti baju dengan dress hitam. Nila telah siap dengan dandanan minimalis. softlens coklat, dan high heels senada.

“Excuse me, Do i know you?” reaksi Abhiram ketika melihat Nila keluar dari Kamar.

Well actually we are still a couple of stranger. But as you ask me to go to La Favela so i make up my self and i am ready now. Shall we go?”

“We have to”

Abhiram mengambil kunci motor, mengunci villa, dan segera berangkat. Tak lupa disemprotkanya parfum di badan nya.

——————————————————————————————————–

Seperti Jumat malam lainya, malam itu Lafavela terlihat ramai. Nila terlihat sangat tegang ketika berada di depan gerbang pemeriksaan.

“Abhiram, i’m still below 25” bisiknya polos.

Abhiram menjabat tangan Nila lebih erat dan berbisik,

“Hold me tighter”

Ketika sampai di depan pos, seorang security mendekati dan berkata.

“Malam mba, Evening Mister, boleh cek tas nya?” 

“Boleh” Nila melirik sebentar ke ahah Nila.

Ketika selesai pengecekan, sekuriti tersenyum dan berkata.

“Ok, have a good night mbak and mister”

Done? Sudah?

Oh, God, thanks Abhiram! Refleks Nila memeluk pinggang Abhiram. Abhiram dengan sigap membalas rangkulan Nila lebih erat.

Fix, malam ini akan menjadi malam mereka berdua.

——————————————————————————————————–

Nila masuk ke club, melihat banyak orang sedang berjoget dengan salah satu musik latin yang sedang naik daun. Dia tau, lagu ini sering diputar di sport club langgananya.

Untuk sesaat ia mengamati tempat baru tersebut, seperti biasa, dekorasi ruangan, hiasan dinding, sudut bar, orang-orang, aroma, dan hal kecil lainya. Club ini terbilang unik, berlatar dekorasi Spanyol dengan lukisan antik di dinding ruanganya. Musik nya pun tidak seperti tempat dugem lainya yang melulu EDM. Club ini asik, dengan ritme yang menarik.

0c1fa6d37f9ecee63d335078d8d48cb0

source : s-media-cache-ak0.pinimg.com

Abhiram yang diam diam memperhatikan ‘kekaguman’ perempuanya itu memecah suasana.

So you want to order something or sit down?” tawar Abhiram

“What do they have?”

“Let’s see” Digamitnya tang Nila dan menuju ke Bar.

Alben Sider dipilih Nila sebagai minimal pembuka, dan Corona untuk Abhiram.

“Cheers for not so little girl who made to get in!” Ucap Abhiram sambil menyodorkan botol beer.

“Cheers for a man who make her get in!” Balas Nila sambil mengangkat botol Sider nya.

Setelah itu mereka pergi ke lantai dansa. Bagi Abhiram lantai dansa merupakan hal yang biasa, namun tidak bagi Nila. Ia terlihat sangat amat malu dan asing. Dia menggerakkan tubuhnya dengan sangat minim dan segan. Dan Abhiram, Ah… He’s a really good and attractive dancer. Butuh waktu lama untuk Nila mencair dan mulai berdansa. Abhiram yang sadar dengan kecanggungan Nila mengajaknya untuk duduk di pojok bar.

“Come on, sit down, you seems not OK” kata Sugam sambil menggandeng dan menggiring Nila ke sudut Bar.

“What happen Nila?” bisik Abhiram ditengah deru musik.

Well nothing happen, this is just my first time, i need sometimes to breaking the ice and flowing. I’m OK” jawab Nila saru.

“See Nila, this is the moment that you’re waiting for. So live it, fully. Don’t think and say too much. Just go with your flow. If you have tried, and still not convenient, we can go and try other place. As you wish”

“No, we won’t go. I will try. Let’s back to floor, and.. can i order anything more?” tanya Nila.

“Sure”

Setelah Nila memesan Long Island dan mulai menegaknya, Nila mulai sedikit lepas. Setelah dua, empat, enam minuman keras ia tegak, ia mulai benar benar lepas. Ia menari bagaikan Burung Merak yang baru dilepas yang lepas dari kandang dan memamerkan bulu indahnya . Lincah dan begitu memikat. Dia tidak perdulikan orang disekitar kecuali Abhiram. Ia sendiri pun tidak ingat betul seliar apa ia malam itu.

Bagian yang telah ia sembunyikan begitu lama akhir nya pecah. Panas mengalir bagaikan larva yang keluar dari perut bumi. Ia begitu pandai menari, mengikuti irama lagu, mengimbanginya dengan gerakan lekuk tubuhnya, bergerak erotis dan menggoda di tengah deru redam suara musik club. Berdesakaan di tengah tengah sejoli yang juga mencumbu tak kalah hebatnya. Abhiram yang tidak sekepayang Nila mengimbangi gerakanya dengan sangat baik. Di titik tertentu ia tempelkan tubuh nya ke punggung, sesekali dada Nila, mengikuti drama lagu. Malam ini Abhiram miliknya, ia milik Nila. Malam ini milik mereka. Tempat dan udara ini milik mereka.

Sejalanya kedua orang yang kepayang, akhirnya bisa ditebak, bibir mereka akhirnya bertemu, berpagutan, saling menghisap, saling memberi kehangatan, saling mengucapkan cinta dan nafsu. Nila yang sudah di angan-angan merangkul leher Abhiram dengan mesra sambil sesekali mengigit cuping telinga serta membisikkan kata mesra. Mereka mabuk, semabuk mabuknya.

Sesekali mereka keluar dari lantai dansa, duduk di bar, mengobrol kecil, berpelukan, dan kembali ke lantai dansa.

Ketika satu lagu kesukaan mereka bergema di ruangan mereka tidak segan menyanyi dan berjoget bersama.

Is it just our bodies? Are we both losing our minds?
Is the only reason you’re holding me tonight
‘Cause we’re scared to be lonely?

Setan berhasil merasuki mereka malam ini, dan mereka sangat menikmati akan kehadiran musuh Tuhan tersebut.

——————————————————————————————————–

Mereka kembali pukul 4 pagi, dengan kesadaran sangat minim.

Sesampainya di villa, tak usah dinyana. Mereka bercumbu dan bercinta layaknya sepasang kekasih yang sudah lama memadu.

Can i own you Nila?”

“First of all i am not a property, and yes, please you can”

Dan terjadilah dengan panas, kedua anak manusia yang saling membutuhkan, yang mungkin saling cinta, dan bernafsu pastinya.

Mereka tertidur dengan sangat lapang, dan kelelahan. Raga dan jiwa mereka lepas, sebebas burung yang baru keluar dari sangkar. Tanpa sehelai benang pun menutupi, mereka tidur sambil berpelukan.

——————————————————————————————————–

Pagi datang tanpa diundang, Memaksa mereka untuk bangun dan bersiap.

“Morning, Sugar” sapa Nila sembari mengelus rambut Nila.

“Morning, My Pie” balas nya setengah sådär.

“Your head Spinning babe?” tanya perempuan yang sedang dimabuk repaying tersebut.

“ A bit.. Can you cure it?”

‘Well, i think so” jawab Nila manja

Abhiram langsung menggamit tangan Nila, mengulurkanya ke leher, dan kembali mencium Nila. Dan terulang lagi kejadian itu, pagi mereka diawali dengan bercumbu ria.

Hari selanjutnya mereka habiskan berdua. Nila yang memang dari dulu gemar backpacker dengan lincah menemami petualangan Abhiram.  Mereka pergi ke Gili dan menikmati salah satu festival musik disana, bermain voli di tepi pantai, berjemur sembari membaca buku, bercanda mesra di bawah sinar rembulan, berenang di salas satu beach club, skinny dipping di villa , berdansa hingga Pagi ditemani musik hippies.

Nila juga mengenalkan berbagai macam makanan khas Bali dan Lombok kepada Abhiram. Agak sulit untuk Abhiram yang memang seorang vegetarian garis keras untuk mencoba masakan Bali yang sebagian besar mengandung daging, dan kaldu.

Sebelum pergi Nila berpesan kepada Ibu nya bahwa akan ada outing dan gathering kantor di luar kota selama 3 hari. Jadi tidak usah risau akan kepergianya beberapa hari tersebut.

Hari – hari mereka lalui dengan sangat indah. Malam itu tepat pada puncak Gili Air Festival. Mereka berbaring di tepi pantai Gili dengan keadaan sangat tipsy. Abhiram tidur di paha Nila, dan Nila sedang mengusap mesra rambut Abhiram.

“Nila..”

“Ya?”

“What  will we do after this?”

“Live our life?” jawab Nila

“Exactly” 

“Abhiram..”

“Yes babe?”

“Will you take it personally?”

“I don’t know. Most likely.. No idea. Will you?”

“I try to not to. Too harm for me if i do. You’re so unreachable”

“What do you mean?”

“If just in case i fall for you, it will be hard for both of us. This is just impossible relationship. Let it be like this. ”

“No chance at all?”

“Unless i want to move to India and live our life with you forever and ever, My Sugar” kata Nila sambil mencolek hidung Abhiram.

“You, geeky girl!” balas Abhiram dengan cium.

“I don’t want this night change Abhiram. I wish i can stop the world, so can get off with you forever” ucap Nila samba menatap langit.

——————————————————————————————————–

2 hari berlalu dengan amat cepat. Malam terakhir Abhiram di Bali diguyur hujan yang sangat deras. Nila yang sedari sore menemani Abhiram berkemas pun tidak beranjak keluar malam itu. Tidak seperti teman-temanya yang keluar menghabiskan malam terakhirnya di Bali bersama gemerlap lampu dan hingar bingar club malam.

Mereka, yang sedari tadi sibuk berpura-pura, atau sengaja berpura pura tidak tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir mulai mencium aroma perpisahan dan kesedihan.

“So, tomorrow we won’t meet again?” ucap Nila sembari menegak mix Vodka.

“Yes, but no. I mean physically we won’t, but we can keep in touch and meet in.. online, chatting, or? jawab Abhiram sembari menggantung kemeja putih yang akan dipakai esok.

“No it ain’t. Don’t try to entertain me’

“I’m totally gonna miss you, Nila” Katanya sambil memegang erat tangan Nila.

“No, don’t say and promise any sweet thing now, ever”

“No i mean.. See, we’ve spent so much good time together. Even though i came to Gili, i do scuba diving, clubbing, drinking, go to temple, but if people ask me what is the best thing i found in Bali, it must be Nila”

Nila tersenyum kecil sambil memegang tangan Abhiram erat. Dia sangat tidak ingin melibatkan perasaanya dalam hal ini. Satu hubungan yang mustahil dan tidak akan terjadi. Namun sepertinya kali ini ia tidak bisa munafik, tidak senaif kemarin. Ia akan kehilangan, ia akan kembali ke dia yang dulu, ia akan dikurung lagi. Hatinya diselimuti awan hitam yang 3 hari ini hilang ditiup angin segar dari kehadiran Abhiram. Tak rela, sangat. Melepas keberadaan seseorang yang sudah lama dinantikan, Membiarkan dirinya kembali terperangkan dengan rutinitas dan pola yang sama, dan bukan dirinya. Nila dipaksa siap untuk kembali di Nila yang dibentuk oleh keluarganya, yang dilihat oleh tetangga tetangganya. Jiwa Nila kembali sepi. Kebebasan Nila yang sempat bebas kini terkurung rapat lagi di relung relung besi stigma masyarakat.

Malam itu ia tidak banyak bicara, semakin ia banyak bicara semakin pula air mata mendekat ke pelupuk matanya. Dan Nila membenci air mata. Semakin ia menatap Abhiram semakin ia sadar mereka hanya punya beberapa jam untuk saling bersama dan berpegangan tangan. Malam itu mereka habiskan di balkon atas, suasana lembab pasca hujan menemani mereka. Nila dan Abhiram tidur sembari memandang langit luas dan berangan – angan.

“Abhiram.. Next year you are 30, right?”

“Nila, i told you age is just a number”

“On the age of 30 will you marry someone?”

“I told you i’m not thinking to marry anyone, i don’t believe in a concept of marriage. But i never know. My family will push me intensely to getting married, definitely. I don’t what will happen”

“…………… can i ask something particular?” tanya Nila

“Yes please”

“Don’t get married before we meet again” ungkap Nila sambil menatap mata Abhiram.

Abhiram lantas memeluk Nila erat dan mencium dahinya.

“We’ll never know destiny Nila. You’re really logic woman. You must be understand”

Mereka kembali kepada langit luas dengan hamparan bintang, Abhiram memutar satu lagu yang sangat pas malam itu.

“Nila, this is you..”

Intro lagu mulai terdengar, Nila sangat tidak asing dengan lagu ini.

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars

I’m gonna give you my heart

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars

‘Cause you light up the path”

Yes you are Abhiram, you are a sky full of star, and you light up my path!

Malam itu mereka habiskan dengan berpelukan dan bercinta. Mereka bercinta seakan tak ada hari esok, seaman tak terpisahkan. Dingin udara malam itu tidak dirasakan oleh mereka. Tertutup oleh panasnya emosi, perasaan, rasa cinta, dan nafsu yang membaur menjadi satu.

——————————————————————————————————–

Jarum jam nenunjukkan pukul 12. Saat nya Nila harus pulang, dan kembali ke kehidupan nyata.

Nila sengaja tidak mengantar Abhiram ke bandara, biarlah ia yang pergi meninggalkan, bukan ditinggalkan, dan sekali lagi, ia benci air mata. Abhiram mengantarkan Nila sampai hingga di pinta mobil.

“So this is the story” ucap Abhiram.

“The End?” tanya Nila

“No and Never” jawab Abhiram sambil mengelus pipi Nila.

“I hope so” kata Nila sambil mencium tangan Abhiram

“Nila, can i ask you a favor?”

“Please…”

“Smile more, keep your chin up. Keep the happiness you showed when you’re with me in your daily life, you are very cute with that. And, keep being strong”

“I try, Thank you so much Abhiram, for everything”

“I am the one who really thankful to have you Nila, don’t forget each other”

“Bye, Good Night”

“Drive safe Nila, Good Night”

Dan sekali lagi mereka berpelukan erat dan berciuman untuk terakhir kalinya sebelum Nila masuk ke mobil dan menghilang di tengah jalan malam.

——————————————————————————————————–

Sepanjang jalan pulan Nila menangis, pecah,  ia memainkan lagu sekencang kencangnya. Ntah Abhiram merasakan hal yang sama atau tidak, ntah orang bilang he’s still stranger, mereka baru bertemu 3 hari or what so ever, tetapi nyatanya sekarang ia telah kehilangan, sekali. Ia tidak rela kembali ke diri yang bukan dirinya.

“Oh they say people come, say people go

This particular diamond was extra special

And though you might be gone, and the world may not know

Still I see you, celestial”

——————————————————————————————————–

Minggu kedua Juni, 2017.

Lamunan Nila terusik oleh keributan dari meja sebelah. Tepat di arah jam 3 sepasang remaja tanggung tengah meributkan sesuatu.

“Jadi mau kamu apa? Putus?” lugas ABG berkaos hitam dengan nanda tinggi.

“Putus apa? Aku ada salah apa?” jawab si wanita dengan tidak kalah tingginya.

“Salah apa? Mikir! Aku dari dulu gak suka kamu keluar malem, main sama temen ga jelas!”

Ah, cinta monyet! Gumam Nila. Tak sanggup mendengar kelanjutan drama pertengkaran itu, Nila segera mengemas laptop, membayar bill dan pergi ke mobil.

Diputarnya radio lokal kesayanganya ketika sampai mobil. Sebelum membuka pintu mobil ia sempat mengelap kaca yang penuh dengan embun. Selepas malam begini biasanya lagu melankolis pengantar tidur mulai diputar. Benar saja, Norah Jones baru saja selesai bernyanyi Come Away ketika radio menyala. Berlanjut ke lagu selanjutnya.

………

Nila tidak asing dengan lalu.

“They say people come, and say people go….”

Lagu itu lagi, mengapa semesta seakan berkonspirasi untuk selalu mendekatkan Abhiram ke hati Nila. Menyesakkan Nila yang dari hari ke hari semakin susah melupakan lelaki tersebut.

Sepeninggal Abhiram, Nila kembali menjadi Nila, Nila yang tetap terperangkap, menunduk, dan bersembunyi. Dia coba untuk mencari kunci seperti yang ditawarkan Abhiram, namun tak pernah, mungkin belum ia temukan. Nama Nila boleh jadi bermakna penuh warna, namun tidak dengan dirinya. Hitam, putih, dan Abu. Hanya itu yang dia kenal.

Dia semakin banyak berfikir dan merenung tentang masa depan. Sampai kapan ia akan membiarkan dirinya menjadi tidak dirinya, sampai kapan dia akan berbohong, sampai kapan dia akan menyenangkan orang lain.

“I was born in a really understandable family. At my age, normally all my families and relatives have got married, but not me. I’m not an easy married person. I still have a lot of wish list that i want to achieve. When i told my mama about this she just said, don’t listen to them, keep on your track. So what i’m saying is you don’t have to please anyone, and you can’t! Your happiness is your priority. That is what i believe”

Masih teringat jelas salah satu pesan Abhiram kepada nya. Yang sangat tidak mungkin Nila terapkan di kehidupanya. Terlalu banyak batasan di sekililing, terlalu banyak birokrasi yang membelit, terlalu banyak ekspetasi yang mau tidak mau mengarahkan dia ke sisi lain suara hati nya.

——————————————————————————————————–

Nila kembali fokus ke jalanan sepi malam itu, berusaha untuk tetap tenang dengan hati yang senantiasa mengembara ke altar mimpi kehidupan yang dinantikan………

——————————————————————————————————–

Well, terkadang seseorang yang tepat datang pada saat yang tepat, namun bisa pergi pada saat yang tidak tepat.

Bagi Nila, ada tau tidak orang tersebut ia harus tetap bekerja, ia harus tetap bersama Ibu nya, ia harus tetap menjadi seorang anak almarhum pemuka agama, ia harus tetap menjadi wanita yang baik, dan ia harus tetep menjadi Nila yang hanya mengenal hitam putih dan Abu.

Till we meet again, Abhiram.

THE END

 

 

PS : A bunch of thanks for the only one whose cool damn hair and personality, who inspire me a lot for this, thank Sugar 🙂
Featured image source : Pinterest (Still got no name, Thanks for you who made this lovely picture!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s