Binar

 

Tidak seperti akhir pekan biasa, Sabtu ini Binar hanya duduk di kamarnya. Memandangi layar laptop dengan telinga tertutup headset. Untuk seorang hookers (read wanita tuna susila), malam minggu merupakan waktu panen bagi mereka, terlebih pada saat musim liburan seperti ini. Turis internasional yang memang menjadi target Binar akan lebih mudah ditemukan di aplikasi kencan online andalanya. Tidak seperti WTS lain, Binar tak mengobral jasa di tepi jalan atau  club.  Ia biasa menggunakan aplikasi untuk menggaet klien. Sejauh ini ia bisa hidup dengan ‘lapakanya’ itu. 4 dari 6 malam seminggu dihabiskan untuk melayani pelanggan yang berasal dari berbagai negara.

Sebenarnya Binar bukan wanita tidak mampu, gaji sebagai seorang operation manager  di salah satu perusahaan furniture ternama di Bali sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya, ditambah lagi bisnis guest house dan properti warisan Ayahnya.  Tanpa melacur pun Binar sudah bisa hidup lebih dari cukup. Namun tak semua pelacur mencari uang. Setidaknya begitu yang dirasakan Binar, kepuasan batin dan pelampiasan adalah tujuan utama Binar. Sejak ditinggal ayahnya ‘kawin lagi’ 3 tahun silam’, Ia menjadi wanita pendendam, tepatnya pendendam dengan lelaki. Semua lelaki lajang dan berkeluarga sama busuknya bagi Binar. Dengan melacur setidaknya ia bisa membuat laki-laki tersebut takluk dihadapanya, walaupun takluk yang dimaksudkan jauh dari norma wajar.

Binar melakukan pekerjaanya dengan sangat profesional, bagi dia waktu adalah uang. Semakian lihai ia melayani, semakin klien akan takluk padanya, semakin pula balas dendamnya terbalaskan.

‘’Satu, Tidak boleh ada kontak setelah jasa diterima selain untuk urusan bisnis. Dua, Tidak membicarakan hal lain selain yang berkaitan atau mendukung jalanya bisnis. Tiga, tidak boleh melibatkan perasaan apalagi sampai jatuh cinta! Haram Ga!’’ begitu ucap Binar ketika ia menjelaskan kepada Gala- sahabatnya ketika mereka berdebat tentang keputusan Binar menjadi seorang WTS.

Binar memang keras kepala, tidak ada satu orang pun yang bisa menghalangi apa yang menjadi misi nya. Siapapun kecuali ia sendiri. Namun sepertinya hidup menakdirkan Binar untuk merasakan pahit nya buah Simalakama. Kekokohan Binar akan prinsip ‘pelacuranya’ hancur ketika ia bertemu dengan Sharma.

prettywoman_kissthemgoosbye_2817029

Gambar haya untuk kepentingan ilustrasi

—————————————————————————————————————

Malam itu Binar sudah bersolek prima, dress pendek ketat dengan punggung terbuka terlihat sensual di badan sekalnya. Ditambah lipstick pucat dan blush on pink muda mampu mengundang birahi setiap mata yang melihat.

Layaknya malam yang normal, malam itu Binar mendapat klien seorang pria bernama Sharma. Pengusaha lajang berusia 28 tahun asal India itu memakai jasa Binar seperti pria hidung belang lainya. 6 bulan bekerja sebagai hookers, Binar sudah paham betul apa dan bagaimana cara melayani tamu dari berbagai negara dengan baik. Dan lagi Binar hanya ingin bekerja secara profesional, itu saja

Binar datang ke villa mewah Sharma dengan anggun, dan sensual tentu saja. Mobil SX4 putih yang dikemudikanya di parkir rapi di depan pintu kayu. Sharma yang sedang asyik berenang menghampiri Binar tepat di depan mobil nya.

‘’Hi Binar! Thanks for coming. Nice to meet you’’ Sapa Sharma sembari memeluk pinggang dan mencium pipi Binar

‘Hi Sharma! My pleasure, Nice to meet you to!”

Dari daun pintu Binar melihat 7 teman Sharma yang lain, yang sebagian besar sedang bertelanjang dada sembari berenang. Tidak seperti situasi biasanya, kali ini teman-teman klien nya tersebut sangat menyambut Binar dengan baik, dan tidak menganggapnya sebagai wanita panggilan. Dipersilahkanya Binar duduk di sofa, ditawari minuman, makanan, dan satu lagi, mereka tidak menatap Binar dengan nafsu- seperti teman-teman atau klien Binar yang lain, kehangatan pertemanan sancta dirasakan Binar kala itu.

Mereka mengobrol tentang kehidupan di Bali, tentang tempat apa saja yang akan dikunjungi,  , bisnis furniture dan guest house yang digeluti Binar, dan hal lainya yang jauh dari kata vulgar. Salah satu teman klien nya, Ankeet, bercerita tentang bagaimana suka dukanya bekerja di salah satu travel agent ternama di India, Binar yang juga tak asing dengan dunia pariwisata mendengarkan dengan seksama. Ada juga Kothari, seorang pengusaha restoran makanan cepat saji yang bercerita tentang ketertarikanya untuk berinvestasi properti di Bali, Binar dengan semangatnya yang menggebu-gebu menjelaskan tentang prospek bisnis tersebut. Sharma memandang kagum dari jauh bagaimana wanita malam nya tersebut mampu membaur dengan kawan-kawanya. 4 jam Binar habiskan waktu hanya untuk mengobrol. Ketika jarum jam menunjuk angka 1, kawan-kawan Sharma mengajak pergi ke club, namun Sharma menolak untuk ikut dengan alasan lelah.

Binar fikir inilah saatnya untuk bekerja

Ketika teman-teman Sharma mula menghilang dari balik pintu Binar mulai menjalankan aksinya.

Didorongnya tubuh indah nan sekalnya ke dada hangat Sharma. Jari-jarinya yang lentik mulai digerakkan di atas perut berbulu tipis Sharma.

Sharma yang tahu apa yang akan dilakukan Binar dengan tak disangka menepis langkah Binar.

‘’Binar, i know i call you for doing that, but please.. Not now Binar. I am feeling to talk with you as for now. Please’’ Ucap Sharma lembut.

Binar yang masih dengan rasa kejutnya menjawab

‘’OK Sharma, as you wish. But you remember right that I use hour rate for this calling?” 

“That’s one of my reason to call you. The amount is not an issue, i will pay you 24 hour if you wish to”

Well sebagai wanita panggilan, Binar hanya bisa mengikuti apa kata pelanggan, sejauh bayaran yang diterima sesuai dengan kesepakatan.

Alhasil sepanjang malam itu mereka mengobrol jauh dan dalam tentang kehidupan.  Karier, asmara, keluarga, cara pandang, kebiasaan di Negara masing-masing, termasuk tentang kontroversi perjodohan yang biasa terjadi di India.

“Well I totally don’t agree with that concept. We have our fully right to choose whomever we will spend our life with. Even parents, they don’t have any right to choose it! They can say whatever their opinion about my man, but not to decide anything at all’. Don’t you think Sharma?”

Begitu tanggapan Binar mengenai perjodohan. Sharma yang telah mencoba menjelaskan alasan dibalik maraknya hal itu terjadi hanya bisa terdiam sambil tersenyum melihat kegigihan wanita nya itu.

Selama sesi ngobrol itu Sharma mengelus mesra pipi dan tengkuk Binar, tak lupa vodka cola dan anggur putih kesukaan Binar yang menemahi celotehan-celotehan hangat mereka. Sesekali Binar memainkan rambut hitam dan jambang Sharma. Sesekali pula Binar mengendus mesra pipi Sharma, tawa lepas mereka memenuhi seisi villa malam itu.

Binar menemukan keintiman dan kehangatan yang berbeda dari Sharma, sangat berbeda dengan klien nya yang lain. Binar menemukan sosok lelaki yang bertanggung jawab, spontan, dan menjunjung adat. Lelaki yang cinta keluarga dan punya misi hidup yang jelas.

Dan ketika jarum jam menunjuk angka 4:30, ketika alkohol membuat kesadaran mereka sudah diambang batas. Binar memberanikan diri untuk mencium dada serta mendekat lebih dalam di pelukan Sharma. Sharma yang sudah pula berbihari tinggi masih bisa menyanggah.

‘Binar ,I have made out with 2 dolls since I came. But you’re not doll. You’re a nice proper woman. You are not for entertainment. You’re smart. You are more than smart to become a hookers, Binar. Please stop being this. This is Unworthy!’ Ungkap Sharma dengan emosional.

‘If only we make out tonight it’s because I like you personally. And you should like me personally too, not professionally’ lanjut Sharma

‘I believe you still remember as I told you everything. The whole story of my family, life, and my reason to do this. But tonight Sharma, with you, i take it too personally. You’re not client nor for business. It is not about now only. I know what i did is unworthy, but tonight, can we feel each other deeper,Please..?’’ Binar menjawab dengan mata berkaca-kaca.

Tepat setelah Binar menyelesaikan kalimatnya, Sharma langsung menubruk mesra tubuh Binar dan terjadilah pertukaran cairan dua insan berbeda yang hanya baru berkenalan beberapa jam. Perkenalan singkat yang bisa mengubah hidup keduanya, perkenalan singkat yang bisa merubuhkan prinsip Binar tentang Taturan kokoh yang dipegangnya.

——————————————————————————————————————

Ketika mereka saling bergumul hangat, ketika pandangan mereka bertubrukan mesra, dan ketika Binar menyelami sorot mata Sharma, seketika Ia sadar….

Tidak tanya tubuh, hati Binar sudah jatuh cinta kepada lelaki India tersebut

——————————————————————————————————————

Setelah bergumul malam itu mereka menghabiskan sisa waktu liburan bersama, pantai, club, café, dan berbagai tempat hiburan lainya.

Hati Binar kosong ketika harus melepas kepergian Sharma di Bandara 2 bulan yang lalu. Salah satu alasan mengapa ia sempat berhenti menjadi hookers telah pergi meninggalkanya.

‘Don’t cry please. We will meet again Binar, in one Sunny day. Take care.” Ucap Sharma sembari mengecup keying Binar lalu pergi menghilang dibalik kerumunan antrian.

Seteah berpisah mereka masing sering berhubungan, email, texting, video call. Binar juga mengirimkan kado ulang tahun Sharma ke 29 bulan lalu.

“Hang on Binar. Everything will be alright. I miss you’’ Begitu balasan Sharma ketika Binar bercerita tentang rasa rindunya yang tidak bisa dipendam.

Pesan tersebut juga merupakan pesan terakhir yang diterima Binar selama 2 minggu terakhir.

——————————————————————————————————————

Malam ini memang malam yang tidak biasa. Bulan sedang angkuh-angkuh nya memancarkan sinar nya yang paripurna. Orang-orang sedang asyik menikmati tanggal muda dan malam minggu nya di mall. Seakan buta dan tuli akan kenyataan disekitar, Binar hanya duduk menatap kosong ke arah laptop nya. Tidak perduli banyaknya pelanggan yang menawar, tidak peduli promosi yang baru didapatkan di kantor sebagai General Manager, tidak peduli 2 deal yang baru diselesaikanya kemarin, tidak perduli Arctic Monkey, band kegemaran Binar akan datang ke Indonesia, tidak perduli bahwa Adik kandung Binar baru saja lulus dari gelar Master nya di Belanda.  Dunia Binar seakan tidak berbinar kala hari ini dia mendapat email berjudul :

‘’Sharma and Nikita Wedding Invitation’’

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s