58 Jam di Ubud – sisi lain tahun baru di Bali

Sudah bukan rahasia lagi kalau BALI merupakan salah satu destinasi favorit tahun baru. Aku yang sudah tinggal 20 tahun (minus 4 tahun di Bandung) lebih disini selalu merasakan ‘sesaknya’, bahkan H-5 sebelum tahun baru. Macet dimana mana, jalan dipenuhi dengan kendaraan berplat asing, bandara dan destinasi pariwisata ramai dengan wisatawan. Dan selama 20 tahun itupun aku gak pernah sama sekali keluar kalau Tahun Baru, He..

Selain karena suasana Bali, terutama Kuta yang terlalu ‘berbahaya’ untuk anak dibawah umur (FYI, terakhir aku tinggal di Bali itu umur 17 tahun sebelum pindah ke Bandung umur 18), aku juga gak terlalu suka keramaian yang membabi buta. Ramai masih asik, tapi ramai yang kebangetan, seperti yang aku lihat di TV itu, aduh… jangan deh. Bagi beberapa orang memang asik, tapi itu bukan tipe kondisi yang aku suka.

Dan setelah 4 tahun merasakan tahun baru di luar Bali, akhirnya! Tahun baru 2017 ini bisa di rumah juga. Lalu seperti yang sudah saya bayangkan, keramaian mulai kerasa bahkan dari tanggal 26, ditambah lagi kantor aku letaknya di Seminyak, yang notabene destinasi pariwisata yang rame dikunjungi, plus orang-orang yang pada ‘kebanyakan uang’ kali ya, jadi dari tanggal 27-an udah mulai nyalain kembang api, gak pagi, sore atau malem. Ahhh..

Karena gak suka dengan keramaian membai buta tadi, plus adanya hasrat dan keinginan luhur untuk memulai tahun baru dengan tenang dan keadamian (asek) jadiiii saya memutuskan tahun baruan di…. UBUD! Yup, siapaaa yang gak kenal Ubud? Tempat yang dikenal dengan ketenangan, dan basecamp para Yogi dan Hippie people itu memang udah dari lama pengen aku ‘rasain’. Disana aku sempet singgah ke beberapa tempat wisata, dan aku nginep di Ketut Liyer Guest House, mungkin kalian pernah nonton Eat Pray Love? Tau kakek-kakek peramal itu? Nah aku tinggal di guest house beliau.

Total aku habiskan 2 hari 1 malam di Ubud, dan berikut itinerary  aku selama 2 hari :

DAY 1

Aku berangkat ke Ubud tanggal 31 Desember 2016 sekitar jam 10-an, sebelumnya sudah booking guest house, packing segala macem deh.  Rencana awalnya sih akan berangkat jam 8-an tapi hari itu hujan terus dari pagi, dan berhubung kita naik motor  dan bawa carrier, daaan belum punya rain cover nya, jadi terpaksa nunggu hujan reda sampai jam 9-an. Rute yang kita tempuh ke Ubud melalui jalan Dalung – Sibang Kaja – Mambal – Ubud, kurang lebih perjalananya 45 menit, dan lucky us perjalananya mulus banget tanpa drama permacetan.

Sampai di Ubud, kita langsung menuju Ketut Liyer Guest House, yang letaknya di Jalan Pengosekan Ubud. Letak guest house ini asik banget, dekat ke mana-mana tapi gak rame. Kesan pertama tentang guest house ini itu… Asri, dan nenangin banget. Kita sampai guest house ini sekitar jam 10-an, karena belum masuk waktu check in, akhirnya kita ngelayap lagi keliling Ubud.

5-2

Tampak depan guest house

blog-2

Jalan masuk guest house

Perhentian selanjutnya kita adalah Campuhan Ridge Walk. Awalnya sempet kesusahan dan gak ngeh sama lokasi tempat asik satu ini. Udah berhenti di Jalan Campuhan, jalan kaki hampir 5 km, nanya-nanya orang, ambil motor, balik lagi dan masih gak ketemu juga. Dan sampai akhirnya kita baca blog https://indonesia.tripcanvas.co/bali/things-to-do-ubud/ dan menemukanlah bahwa untuk masuk ke Campuhan Ridge Walk harus masuk dari Warwick Ibah Villas Kalau kamu datang dari Jalan Raya Ubud, hotel ini ada di sebelah kanan. Setelah masuk papan hotel, tepat di sebelah kiri ada jalan menurun, da ada plang GO TO THE HILL. Nah, disitulah sebenarnya kita harus masuk, dan biar lebih deket, parkir motornya di parkiran dekat Pura  Lebah Campuhan. Dan dari tempar parkir kalian harus jalan menuju pintu masuk pura Lebah Campuhan . Tepat di sebelah pintu masuk itu ada jalan kecil menuju dipinggir sungai, nah disitulah kalian harus masuk, ikutin aja jalanya, and your journey is about to start! Track nya tidak terlalu jauh (dibandingkan dengan Karma Beach, ini gak ada apa-apanya :D), asal dinikmati dan dibawa asik aja pasti gak akan kerasa. Pastikan kamu bukan tipe yang gampang ngeluh kalau mau ke tempat ini ya J Sampai di ridge walk nya aduuuh, bagus dan menakjubkan banget. Sejauh mata memandang hanya ada hijau-hijau persawahan.

Selesai tracking, kita kembali ke guest house sekitar jam 1 – an. Sampai di guest house kita diberi tahu bahwa room yang kita pesan standar nya lagi maintenance, jadi gak bisa check in L Dan sebagai gantinya kita dikasi pindah ke kamar Deluxe hanya dengan tambah 50 ribu (Setelah cek di internet harga room nya beda Rp 200.000 dari standar), yah karena kita fikir itu good deal dan males juga cari-cari yang lain, akhirnya kita iya-in deh itu penawaran. Setelah kita pindah, dan aku mau pake Wifi, housekeeper nya baru kasih tau kalau Wifi nya mati, dan teknisinya libur! Sebenarnya sih gak terlalu masalah buat aku, malah bagus lagi bisa fokus liburan bukanya main gadget. Tapi untuk tamu lain, terlebih orang asing yang perlu koneksi internet mungkin akan mengganggu banget ya.

Lanjut, setelah check in, kami putuskan untuk berenang. Disini saya dikejutkan lagi oleh…. Kotornya kolam berenang. Gak tau deh, mungkin manajemen guest house nya gak mau pake bahan-bahan kimia atau terlalu banyak tumbuhan dan pohon disekitarnya, tapi kolamnya gak nyaman banget buat diberenangin L Airnya hijau, lantainya banyak lumut, dan banyak tumbuhan dan daun-daun di dasar dan di airnya. Akhirnya kita cuman nyebur sekitar 5 menitan habis itu naik lagi, ganti baju, dan caw lagi muter-muterin Ubud.

Destinasi selanjutnya adalaaaaaaah CARI WIFI DAN NONGKRONG! Yup, berhubung mas nya satu ini punya kerjaan yang harus diselesaikan, dan mbak nya, alias saya pengen ngemil-ngemil syantik, akhirnya kita cari kafe yang enak di sekitaran monkey forest dan pilihan kita jatuh keeeeeeeee WATERCRESS. Enaknya di watercress ini tempatnya enak, harganya standar (standar bule maksudnya alias mehong di kita L) , kuenya yaaaaa lumayan, dan ada WiFi nya. Gak enaknya, ruangan indoor nya non-smoking, jadi mas nya gak betah di dalam. Kita disini kurang lebih 30 menit, sesudahnya kita lanjutin deh jalan-jalan kaki, masukkin toko satu satu di seputaran Monkey Forest. Jalan MonFor ini bisa diibaratkan kaya Legianya kuta kali ya, banyak toko-toko dan harga restaurant dan toko nya termasuk harga wisatawan.

1-2

Monfor

Habis jalan, biasa Laper. Dan berhubung guest house kita gak provide makan malam, kita cari makanan ‘lokal’ yang bisa dimakan. Pilihan kita jatuh ke Lalapan (indonesye banget ya..) dan sate ayam. Dibanding Denpasar dan Badung, harga makananya disini murah sekalay. Kita beli ayam goreng, lele, tahu, temped an 2 nasi cuman Rp 23.000 , dan sate 20 tusuk cuman 10 ribu ajah. Ah, gak kebayang makin melebarnya kalau lama-lama disini.

Pulang ke guest house mandi, makan. Lanjut jalan-jalan lageeeeee, disini kita penasaran, bakal serame apa sih malam tahun Baru di Ubud. Dan jawabanya, ramai tapi rapi. Banyak orang tapi gak sesak, gak penuh. Pokoknya rapi, sedikit macet, hampir tidak ada. Bahkan beberapa kafe dan shop di Monfor banyak yang sudah tutup. Uniknya lagi, kalau di Denpasar dan Kuta kita bisa menyalakan kembang api besar dimana saja (di tengah pemukiman padat pun bisa), di Ubud kita hanya bisa nyalakan kembang api di Lapangan Sutasoma Ubud. Bukan tanpa alasan sih, karena rumah di Ubud banyak yang beratapkan alang-alang jadi takutnya percik kembang apinya jatuh di alang-alang kan repot. Setelah 20 menit kelalang keliling, akhirnya kita makan (lagi?!) di salah satu café di Monfor lagi namanya…….. (ya ampun amnesia banget nama kafenya apa, gak sempet foto dan nyatet pokoknya cafenya namanya aneh ada bowl bowl nya gitu, kayaknya baru, kalau dari arah Mokey Forest sebelah kanan sebelum Watercress, lantai 2, yang atas outdoor. Kalau udah inget janji bakal di update)

Sumpah ini kafe dabest! Harganya kayaknya paling murah dibanding kafe kafe sekaliber lainya, makananya enak, tempatnya asik dan autentik banget, dan yang paling penting (bagi mas nya) tempatnya smokeable J Tapi sayang banget tempatnya sepi, padahal cozy abis loh. Nah di sekitar Monfor ini ada satu pub yang paling rame, paling keras suaranya. Tapi cuman satu aja yang rame, yang lainya pada mengheningkan cipta. Kondisi ini beda bangettttttttttttttt dibanding Kuta, disana mah udah kafe dempet-dempetan dan semuanya berlomba-lomba setel music paling kencang 😀

Setelah bosan nongkrong dan mata sudah gak bisa kompromi kita balik guest house lagi. Sampai guest house kita sempat menikmati kembang api dari balkon kamar, ngobrol-ngobrol santai tentang tahun lalu dan tahun baru, memecah dan memilah resolusi apa yang ingin kita capai,dan sebagainya. Tepat jam 12 ketika suara kembang api semakin membabi buta aku segerakan tidur. Cukup tahu bahwa tahun telah berganti, selebrasi sesungguhnya biar aku lakukan dengan diriku saja.

2-2

View dari balkon kamar

DAY 2

Hari kedua kita awali dengan breakfast! View breakfast disini enak banget, dari meja makan kita bisa lihat pemandangan hutan yang asri banget.  Menu breakfast hari itu hanya omlette, the atau kopi panas, dan buah. Lumayan lah ya buat ganjel :D. Setelah makan pagi, aku sempet meng khatamkan satu novel karya Mira W yang lagi aku baca, setelah itu kembali berenang. Ekspetasi nya sih kolamnya sudah bersih, tetapi ternyata masih kotor juga L. Baiklah, akhirnya kita putusksan untuk mandi, packing, tidur sebentar, dan caw lagi jalan-jalan di Ubud 😀

Sebelum pulang kita sempetin untuk ke jalan-jalan ke Ubud Market. Ya seperti layaknya pasar, Ubud Market juga ramai, berisik, panas, banyak orang, dan banyak penjual yang nawar-nawarin barang. Disini nih aku manfaatin ‘skill’ bahasa bali aku, yang sebenarnya gak seberapa untuk nawar harga 😀 dan ternyata ampuh banget! I got very very best price once they know I’m a local! Makanya tips berharga disini adalah bawa teman atau lebih dari teman, atau siapapun yang bisa Bahasa Bali ketika mau ke pasar tradisional!

6-2

Time to go home!

Setelah shopping sana sini, aku juga sempet jalan-jalan sekitar Jalan Raya Ubud. Nyoba ini itu, masuk keluar toko, pokoknya nuris  banget deh. Setelah lelah jalan-jalan kita putuskan caw balik ke rumah.

Di jalan pulang ini kita nemuin macet panjaaaaaaaaaaaaaaaang banget di sekitar monkey forest, jalan hanoman, dan pengosekan. Denger-denger sih ada tamu besar gitu di restaurant Bebek Bengil, jadi pada nutup jalan.–

58 jam di Ubud kali ini memang menyegarkan, dan memberi banyak inspirasi. Bener-bener pilihan tepat buat yang mau tahun baruan tanpa hura-hura dan rame-rame. Ubud juga salah satu ‘jenis’ tempat yang aku suka. Mungkin kedepanya aku bisa habiskan waktu pensiun disini. Mungkin. – apw

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s