KEBINALAN 2015

Bandung, 22 Desember 2015

Aku sedang bersandar di meja belajar semi permanenku. Lelah juga sehabis memindahkan semua buku ke dalam dus-dus besar, Ah.. Masih ada setengah rak lagi. Namun kuputuskan untuk berhenti sejenak. Sekilas kuraba bulu kudukku yang meremang karena cuaca yang dingin. Bulan ini memang tidak sedingin bulan-bulan lalu. Bahkan, jalan di depan rumah hampir setiap saat lembab karena diguyur hujan. Anak-anak jalanan yang biasa menjajakan tisupun sudah beralih profesi menjadi ojek payung. Kucing-kucingpun kerap bersembunyi di roda mobil. Walaupun di tanah rantau ini aku tidak dibekali mobil, tapi setidaknya begitu yang aku lihat di mobil opung, tetanggaku. Ya, Selamat datang di Bulan Desember.

Entah mengapa di Bulan ini kecanggihan otakku meningkat. Setiap ada waktu duduk diam, atau sedang berkendara motor sendirian, pasti dibawanya aku untuk me rewind  apa apa saja yang telah aku lakukan selama setahun belakangan ini, plus membandingkanya dengan tahun lalu. Sejujurnya aku enggan untuk mengikuti keinginan otakku. Tapi kali ini terpaksa kuikuti…

Tahun 2015 memang tahun yang Binal! Setidaknya bagiku. Tak pernah sebulanpun aku dibiarkan aku untuk hidup tanpa kejutan, masalah, air mata, dan tentunya pengalaman. Dari sekian banyak hal tadi ada yang (memang) sengaja aku prediksi,buat, atau pilih dan ada yang sama sekali aku tidak duga.

Salah satu keputusanku yang aku sadari akan membawa (banyak sekali) masalah dan tantangan untukku adalah bergabung menjadi Kepala Departemen di salah satu organisasi. Bukanya bodoh atau pura-pura polos. Aku sudah paham betul atas apa yang akan aku hadapi. Gunjingan, tekanan, omongan kasar, dan sebagainya. Tapi aku tidak pernah berfikir akan separah itu, sebelum pada akhir November aku terancam dipidanakan oleh suatu lembaga tertentu, karena apa yang aku perjuangkan. Aku tak bilang hal itu pada orang tua, setidaknya sebelum masalah itu coba aku selesaikan sendiri. Dan, syukurnya, aku belum berjodoh dengan meja hijau itu, dan masalah ini aku bisa selesaikan dengan kekeluargaan.

Kejutan lain yang hadirnya sudah aku prediksikan adalah bertambahnya dua gelar di belakang namaku akhir tahun ini. Awalnya aku ragu untuk mampu menempuh pendidikan dalam waktu yang lebih singkat, dan dalam keadaan masih memikul jabatan strategis di organisasi di kampusku. Namun, entah mengapa aku sangat optimistis akan hal itu. Somesay, aku muluk-muluk. Pengen kelar cepet, pengen cumlaude, pengen jadi ini, pengen jadi itu. Tapi untungnya, dari kecil aku dididik untuk tidak mendengarkan apa kata orang. Syukurlah aku punya mama yang ‘cuek’. Jadi, aku menyelesaikan skripsi ku selama 5 bulan, dan menjalani sidang akhir pada penghujung 2015. Walaupun kelihatanya gampang dan cepat. Tapi, Man! Tidak ada skripsi yang tidak penuh perjuangan! Tidak semudah itu, Bro!

Tetapi, dari sekian banyak hal dan kejutan yang menimpaku, ada satu kejadian tidak terduga yang paling membuat 2015ku menjadi binal. Yaitu kehadiran, partner sekaligus pendamping yang sungguh tak terduga. Bukan hanya kehadiranya, namun pengalaman, petualangan, pesan, dan cerita yang dia bagi telah membuat tahun 2015 menjadi penuh warna. (Selengkapnya baca Hal Yang Tak Biasanya) Terimakasih, yobu!

Pikiranku masih mengembara liar ke pertengahan tahun 2015, baru saja aku memasuki kenanganku ketika aku bertengkar hebat dengan tuan rumah kontrakan,  tiba-tiba terdengar riuh suara air hujan. Langsung kulari kebelakang, kuangkat jemuranku yang tak kunjung kering, kukibas-kibaskan dan kugelar mereka di ruang tengah. Ingin kulanjutkan lamunanku tentang Binalnya 2015, namun masih banyak buku dan baju yang harus aku packing.

Ah… Betapa hidup memang harus diisi dengan rasa syukur dan doa. Aku tak mau berterima kasih kepada tahun 2015, karena bukan itulah yang seharusnya ku haturkan terimakasih. Orang-orang yang mengisinya lah yang seharusnya kuhaturkan terimakasih. Karena interaksi merekalah aku bisa tertawa lepas, menangis sedih, dan bersusah payah. Terimakasih Gusti Alloh, telah sudi memberiku waktu dan helaan nafas untuk merasakan petualangan ini. Jika engkau masih berkenan, ijinkanlah aku hidup sampai aku bisa menyulamkan alis mamaku, dan menemani adik ku dalam membangun bisnis ternak Ikan Tuna nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s