Die meestal – yang tak biasanya

Lemah sekali sepertinya kalau aku musti tulis tentang cinta. Padahal kini disekililingku banyak sekali hal yang bisa kuangkat sebagai bahan tulisan, konflik pemilihan raya di kampusku, beberapa teman yang mengkapitalisasi diri, penghujung demisioner, tugas akhir, dan beribu konflik manusia-manusia lainya. Tapi entah mengapa, cinta seakan punya sejuta magnet untuk menggerakkan jariku kepada keyboard keyboard ini.

 Susah sekali membiasakan diri akan hal yang ‘tidak seperti biasanya’.
 

Kumulai saja. Bulan ini, genap setahun aku dekat dengan Fajar Ibrahim (baca : Baim). Kakak tingkat yang dari awal sudah sukses mengalihkan perhatianku, karena rambut gondrongnya 2 tahun silam. Kami dipertemukan dalam satu acara kampus, dimana kami menjadi panitia penyelenggaranya. Jangan kira pada awal pertemuan itu dia langsung tertarik, menyapa saja tidak! Dekat apalagi. Tapi aku sudah lebih dari suka dengan dia. Kesukaan itu berlanjut menjadi tidak suka-sukaan iseng. Alias suka beneran, alias sayang. Tapi waktu itu keadaan dan alam tidak mengijinkan kedekatan itu terjadi. Ya sudah, berpisah tanpa pernah bertemu. Seperti kata orang  “Cinta, mungkin akan datang bila kita sunyi dan sendiri. Jodoh juga akan datang jika kita sudah siap”. Aku coba untuk berfikiran positif dan melupakanya.

img_0053

Bulan demi bulan berlalu. Ah, aku sudah lupa dengan yang namanya Bang Baim. Sengaja kutempa otak dan hatiku dengan kesibukan dan orang-orang yang baru. Sukses! Perhatianku sepenuhnya teralihkan dengan tugas dan kesibukan organisasiku. Tapi sial! Sungguh sial! Di akhir tahun 2014, tepatnya bulan Desember, si gondrong itu datang lagi  dengan cara yang aneh. Aku ingat sekali waktu itu tanggal 23 Desember 2014, selepas UAS semester 5 aku dan temanku sedang terburu-buru menuju ke ATM karena langkahku dikejar hujan deras. Sampai di ATM, aku sedang berdiri dibawah pohon sembari berteduh dan menunggu temanku. Tak kusangka! Abang gondrong itu sedang bersender manja di dinding kaca ATM sambil memandangiku. Geleuh juga ngeliatnya! Risih apalagi. Aku berbicara dalam hati sambil diam-diam mengecek tubuhku dari atas sampai bawah, apa ada yang salah dengan aku?  Tapi saking derasnya hujan, ditambah sudah datangnya temanku. Aku tinggalkan abang gondrong itu dengan penuh tanda tanya. Dalam perjalanan aku pegangi jaketku bagian dada, bukan karena kebasahan, tapi karena aku baru sadar bahwa jantungku masih berdegup kencang setelah peristiwa ATM itu.

 “Bila kita berpikir bagaimana cara untuk melupakan seseorang di situ sebenarnya kita masih memikirkannya”

Jam menunjukkan pukul 12:00, mataku masih serius membuat presentasi tugas besar mata kuliah Manajemen Strategi. Entah mengapa di penghujung semester 7 ini kejenuhanku berada di titik puncak. Apa karena otakku terlalu kuforsir selama setahun belakangan? Ya mungkin, tanggung jawab sebagai kepala departemen BEM, ditambah dengan ‘keegoisanku’ untuk lulus 3,5 tahun membuat otakku ini cukup lelah dibuatnya.

17 Slide sudah kurampungkan, ah berat sekali kepala belakangku. Badan ini sudah minta istirahat. Sudut mataku tertuju pada salah satu sudut kamar yang berisi asbak kosong, dan meja duduk tak berpenghuni. Biasanya ada laptop disana, dengan lelaki yang sibuk mengutak atik photoshop atau sekedar menonton film, atau mungkin melihat-lihat loker. Lelaki yang kini tak gondrong lagi, yang hobinya menggangguku di kala-kala aku serius seperti ini. Sejenak kulihat hapeku. Kamis, 10 Desember. Ah… “Hari Minggu lama sekali ya” batinku.

(Bersambung)

Ditulis 09 Desember 2016

Advertisements

One thought on “Die meestal – yang tak biasanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s