AKU TIDAK MENYEBUT MEREKA STAF

Waktu tidak pernah berlalu dengan percuma. Banyak hal yang tertinggal, berlalu, dan dibawa bersamanya. Waktu juga kadang meninggalkan bekas-bekas yang sulit dihapuskan. Kenangan, masa lalu, hikmah, dan pembelajaran. Apa apa yang ditinggalkan nya memiliki nilai yang tak terbayarkan, terutama yang terakhir, pembelajaran.

Terlalu banyak kejadian, peristiwa dan orang-orang yang lewat dan berlalu begitu saja dalam hidupku tiga tahun terakhir ini. Dari berlalunya mereka dan kejadian kejadian tersebut, masuklah aku dalam setiap fase baru, keputusan hidup yang membawa aku pada petualangan baru.

Dan sekarang petualangan baru yang sedang aku jalani dimulai sejak aku memutuskan untuk menjadi Kepala Departemen Advokasi BEM Fakultas di kampusku. Berat ya? Iya Lumayan. Lumayan cukup untuk membuat kantung mata menjadi berlapis, lumayan bisa untuk meningkatkan ketergantunganku akan kafein menjadi 3 bahkan 5x lipat dari sebelumnya, lumayan bisa untuk memancing musuh musuh sekaligus kawan kawan baru, dan   lumayan bisa untuk menyita waktuku bersama teman-teman keluarga. Tapi itu semua telah kufikirkan itu masak-masak sebelum aku berkata ‘Iya.. saya bersedia’ ketika ditawari jabatan ini oleh seorang rekan ku, dan kuanggap itu semua sebagai resiko yang harus aku kuterima dan jalani, dengan ikhlas tentunya.

Amanah sebagai Kepala Departemen Advokasi coba kujalani dengan total, tuntas dan ikhlas. Paham dan dasar ku dalam mengemban amanah ini hanya 1. Memperjuangkan hak mahasiswa. Bukan proker, bukan eksistensi, apalagi TAK. Paham ini juga yang coba aku terapkan kepada tiga ‘Raga’ Ku dalam departemen ini. Oya aku punya 4 raga disini. Biar kusebutkan, Bobby, Yulia, Kristin, dan Andhika.

‘Raga? Staf maksudnya?’ Tidak! Aku tidak punya staf disini. Biar kuperjelas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Staf didefinisikan sebagai sekelompok orang yg bekerja sama membantu seorang ketua dalam mengelola sesuatu pekerjaan. Oh tidak, definisi tersebu terlalu formal dan ‘kaku’ sekali untuk mereka. Mereka pantas untuk mendapatkan sebutan yang lebih dari itu, aku lebih senang menyebut mereka sebagai raga. Raga yang artinya badan atau tubuh. Raga yang apabila kami bersatu kami akan menjadi sesosok makhluk hidup, manusia, manusia yang memiliki komponen-komponen penting yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainya, manusia yang memiliki raga yang selalu mendukung apabila satu bagian tubuh sedang sakit, manusia tangguh yang memiliki jiwa yang kuat, sehingga sekencang apapun godaan dan cobaan yang datang kami akan menghadapinya sebagai satu kesatuan raga.

Jadi kuberi saja mereka nama raga. Lebih dalam, lebih pas, tidak sebegitu formal nya…

Biar kuceritakan, keputusan ku untuk memilih mereka terbilang gampang dibanding pemilihan ‘staf’ lain oleh teman teman ku. Mengapa? Karena keputusan itu telah kubuat pada saat aku menatap mata mereka, pada saat aku mendengar mereka berbicara, mengamati gaya mereka berdiri dan menjawab pertanyaan, semua itu kutelaah dan simpulkan. Satu dua hal yang ragu aku kuatkan dengan mempertimbangkan pengalaman, CV, serta cross check oleh satu dua pihak yang kukenal.  Lalu terpilihlah mereka, raga raga terbaik yang dimiliki kampus ku. Ah, aku tidak pernah meminta yang lebih baik dari mereka. Syukurku lebih dari apapun mendapatkan orang-orang seperti mereka.

Hingga saat ini tak banyak yang sudah kita lakukan. Beberapa pekerjaan dan proker telah terlalui dengan baik, dan tentunya telah membawa banyak pembelajaran bagi mereka raga-raga ku. Aku berusaha dengan amat sangat menjadi Ibu yang baik bagi mereka. Perhatian, pengertian, saran, dan waktu ku telah kuusahakan untuk mereka. Kuredam ego dan emosiku dalam dalam ketika menghadapi mereka, karena aku tau keegoisan dan emosi yang meledak-ledak akan membuat mereka semakin panas. Aku coba untuk mengenali mereka lekat-lekat, baik buruk, dan celah-celah yang bisa aku masuki. Sebagian sudah kudapati, tapi sisanya belum.. Sedang…

Kamu tahu, di titik ini aku dihadapkan pada satu ketakutan yang besar. Ketakutan dimana aku gagal menjadi seorang ibu. Gagal mengayomi mereka, gagal membawa mereka menjadi insan insan yang lebih baik, gagal mengingatkan mereka apabila kegiatan dan perbuatan mereka mulai ‘nakal’, gagal memberikan kasih sayang, dan yang terpenting gagal untuk memberi pengertian kepada mereka mengapa mereka disini sekarang, untuk apa sebenarnya mereka dipilih, dan apa hakikat dari sebuah jabatan yang sedang mereka emban sekarang, pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa.

Raga-raga ku, anak anak terbaik yang telah aku pilih. Aku tahu kita dihadapkan pada suatu kondisi sulit, tidak perlu kujelaskan rinci dan detail nya, kuping kalian sudah panas mungkin mendengarnya, sama. Aku hanya ingin mengingatkan, menjadi seorang pengurus BEM bukan hanya sebagai orang yang mengurus proker semata, proposal, tanda tangan, danus, acara sukses, LPJ, selesai. Bukan! Kita lebih dari itu, kita jauh lebih besar dari sebuah Event Organizer, nak! Kita sebagai garda terdepan dalam membela mahasiswa, sebagai penyambung lidah, badan penampung aspirasi, eksekutor, pembawa suara-suara mahasiswa, jembatan antara mahasiswa dan kampus. Itu! Pun ada satu dua yang saya amanahi untuk mengembang proker, silahkan jalani dengan maksimal, tapi ingat Bob, Dhik, Kis, Yul kalian saya pilih lebih dari sekedar itu. Setidaknya itu yang aku pahami, itu yang aku ingin anak-anaku paham dan sadari bahwa kalian disini sebagai orang-orang yang berkredibilitas tinggi untuk mengemban amanah amanah diatas, Kalian lah orang-orang yang seharusnya lebih bisa memeluk erat teman-teman mahasiswa lain, Himpunan, UKM, DPM, dan pengurus BEM lainya. Kalianlah yang seharusnya memiliki tingkat kepekaan dan inisiatif 1000x lebih tinggi dibanding teman-teman mahasiswa yang lain.

Ragaku, pasukan advokasi yang sangat sangat aku syukuri kehadiranya, serta rekan rekan ku yang lain. Aku menulis ini bukan karena aku marah, kesal, dan ketahuilah saat aku mengetik ini aku dalam keadaan sayang luar biasanya dengan kalian, dengan tingkat protektif yang tinggi, sehingga aku takut sekali pabila kalian tidak menjadi insan yang lebih baik selama aku pimpin. Jadi bob, yul, dhik, kis. Pahami tulisan diatas dengan baik, telaah maksudnya. Jangan sampai waktu waktu yang telah kalian habiskan menjadi pengurus BEM menjadi waktu waktu yang terbuang sia sia, tanpa hikmah dan pembelajaran yang bisa kalian petik.

img_3910

“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja.” -Buya Hamka 

Ditulis di Bandung, 14 Mei 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s