Maaf, ini Kafe atau Parade Ogoh Ogoh?

Perayaan tahun Baru Saka 1937 atau biasa disebut Nyepi tahun ini saya habiskan di kampung halaman (Bali). FYI, saya sekarang masih jadi mahasiswa salah satu Universitas di Bandung, jadi bisa dibilang ngabisin waktu nyepi di Bali itu menjadi momen yang sangat langka, langka sekali hehehe. Makanya waktu saya tahu tahun ini bisa pulang, senengya luar biasa… luar banget deh pokoknya mah.

Tapi sebagai warga asli Bali yang sudah 19 tahun lebih menghabiskan waktu Nyepi di bali, Nyepi tahun ini saya pribadi merasa sangat KECEWA dan MENYAYANGKAN beberapa hal. Bahkan sebagai warga Bali, saya merasa malu apabila hal ini dilihat oleh wisatawan domestik atau internasional.

Kejadian ini bermula pada saat hari Jumat,27 Maret 2014. Yang bertepatan pada hari Pengerupukan, dimana pada hari itu saya bersama keluarga memutuskan untuk menonton parade ogoh ogoh di Pura Desa, Jalan Gajah Mada. Jujur pada saat itu ekspetasi saya sangat tinggi terhadap ogoh-ogoh yang akan unjuk gigi disana, dan sebagai warga yang baru dua kali menonton parade (karena dulu sempat mengalami phobia gamelan dan keramaian) saya ingin memberanikan diri dan menikmati seni ogoh ogoh tersebut secara utuh kesenian balinya. Pukul 6 beberapa ogoh-ogoh sudah mulai diarak, satu.. dua.. hingga 10-an ogoh ogoh berlalu dan diiringi oleh musik baleganjur (mohon koreksi bila saya salah), lalu muncullah suatu hal yang menjadi sumber kekecewaan saya. Sekumpulan pemuda yang mengarak ogoh-ogoh yang tidak begitu besar (bahkan kecil) membawa SPEAKER BESAR (yang bahkan lebih besar daripada ogoh-ogoh tsb) dengan diiringi musik DJ yang suaranya sangat amat mengganggu dan menutupi musik baleganjur dari arak arakan ogoh ogoh sebelum dan setelahnya. Di bawah speaker tersebut pemuda-pemuda tersebut asik berjoget joget LAYAKNYA DI KAFE/TEMPAT HIBURAN, seakan lupa bahwa dia sedang berada di depan tempat suci. Miris saya lihatnya… Dan ternyata hal ini tidak terjadi di satu dua gerombolan pemuda, tetapi hampir semua (kira kira 60%) memakai musik DJ dan speaker yang berlebihan tersebut. Bahkan satu kumpulan membawa DJ, dan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri mereka (maaf) meminum-minuman dalam sloki berwarna kuning (ntah apa itu) saat menikmati musik DJ salah tempat itu. Ya, walaupun saya akui masih banyak banjar-banjar/perkumpulan pemuda yang masih memakai musik adat Bali, dan mengutamakan kesenian dan kualitas ogoh-ogoh tersebut, dan saya masih sangat mengagumi keindahan dari ogoh ogoh tersebut. Saking kecewanya, pukul 8.30 malam saya sudah meninggalkan tempat dengan rasa sedih dan gemas yang amat sangat terhadap kejadian itu.

Jujur ,hal ini sangat amat membuat saya miris dan menyayangkan, kenapa jadi seperti ini tradisi dan budaya bali? Apakah invansi budaya barat sudah masuk dengan seterlalu ini dalam adat Bali?

Mungkin ada beberapa pembaca yang kebetulan menontotn di tempat yang sama atau di tempat lain, bisa juga membagi ceritanya dengan saya. Maksud saya membuat artikel ini bukan untuk menjelek-jelekan budaya/adat Bali, tetapi saya melihat ada keganjilan yang harus dibereskan demi melestarikan budaya bali yang sesungguh-sungguhnya.

Video selengkapnya bisa dilihat di Hair to toe alien blogspot.

Ditulis dan di pos di Bandung 24 Maret 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s